
Poto Istimewa
Bali – WartaGlobal.Id
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, wilayah Bali dan Nusa Tenggara justru tampil sebagai lokomotif baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kawasan ini mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional pada triwulan II 2026, yakni 6,10 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menegaskan bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami pertumbuhan positif. Namun, tiga kawasan mencatat performa yang berada di atas rata-rata nasional.
"Pertumbuhan ekonomi di Bali dan Nusa Tenggara, Jawa, dan Sulawesi berada di atas pertumbuhan nasional," ujar Edy dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (5/8/2026).
Selain Bali dan Nusa Tenggara yang memimpin dengan pertumbuhan 6,10 persen, wilayah Jawa mencatat pertumbuhan 5,65 persen, sementara Sulawesi tumbuh 5,53 persen.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional tidak lagi hanya bertumpu pada Pulau Jawa. Bali dan Nusa Tenggara kini menjadi motor penggerak baru, didorong oleh bangkitnya sektor pariwisata, jasa, investasi, konsumsi rumah tangga, serta meningkatnya aktivitas perdagangan.
Meski demikian, tingginya pertumbuhan ekonomi juga membawa konsekuensi serius. Arus investasi, pembangunan infrastruktur, serta mobilitas penduduk dan wisatawan yang meningkat harus diimbangi dengan tata kelola yang baik, kepastian hukum, keamanan, dan pengawasan terhadap berbagai potensi pelanggaran, termasuk praktik ekonomi ilegal yang dapat menggerus manfaat pertumbuhan.
Sementara itu, di wilayah Sumatera, sumber utama pertumbuhan berasal dari sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Provinsi Sumatera Utara menjadi kontributor terbesar dengan andil pertumbuhan mencapai 1,17 persen terhadap ekonomi kawasan.
Data BPS tersebut menjadi sinyal positif bahwa pemulihan ekonomi nasional semakin merata. Namun, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan angka pertumbuhan, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar menghasilkan pemerataan kesejahteraan, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya saing daerah secara berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah kabar baik. Namun, tanpa tata kelola yang bersih, pengawasan yang kuat, dan distribusi manfaat yang adil, angka pertumbuhan berpotensi hanya menjadi statistik yang tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.


.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar