Bali Membidik Industri Maritim Masa Depan Febri Hantari Dorong Blue Economy dan Teknologi Galangan Kapal Masuk Agenda Strategis Bali–Timor-Leste Business Forum - Warta Global Ekonomi

Mobile Menu

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Bali Membidik Industri Maritim Masa Depan Febri Hantari Dorong Blue Economy dan Teknologi Galangan Kapal Masuk Agenda Strategis Bali–Timor-Leste Business Forum

Selasa, 08 September 2026


Febri Hantari, S.H., Sekretaris Jenderal Asosiasi Galangan Samudra Galangan Indonesia (AGSI), dalam rangkaian pembahasan menuju Bali–Timor-Leste Business Forum.,poto

DENPASAR, BALI — WartaGlobal.Id

Bali selama ini dikenal dunia sebagai etalase pariwisata. Namun, di balik geliat industri wisata, terbentang potensi lain yang tak kalah strategis: ekonomi biru dan industri kemaritiman.

Perspektif inilah yang dibidik Febri Hantari, S.H., Sekretaris Jenderal Asosiasi Galangan Samudra Galangan Indonesia (AGSI), dalam rangkaian pembahasan menuju Bali–Timor-Leste Business Forum.

Menurut Febri, posisi geografis Bali tidak semestinya hanya diterjemahkan sebagai keuntungan sektor pariwisata. Bali memiliki peluang menjadi salah satu simpul pengembangan industri dan jasa kemaritiman di kawasan.

“Galangan kapal bukan hanya tempat membangun dan memperbaiki kapal. Di dalamnya terdapat ekosistem yang melibatkan tenaga kerja, teknologi, industri komponen, logistik, pendidikan, jasa kemaritiman hingga masyarakat.”

Pernyataan tersebut menempatkan industri galangan bukan sekadar industri manufaktur, melainkan bagian dari rantai ekonomi maritim yang berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas teknologi, memperkuat industri pendukung sekaligus memperbesar daya saing ekonomi daerah.

Blue Economy Bukan Sekadar Slogan

Febri menilai konsep Blue Economy harus diterjemahkan ke dalam kegiatan ekonomi yang konkret.

Bagi Bali, ruang tersebut dapat mencakup pengembangan industri galangan kapal, jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, teknologi kapal yang lebih ramah lingkungan, industri komponen, konektivitas laut hingga peluang investasi sektor kemaritiman.

“Blue Economy bukan sekadar bagaimana laut menghasilkan nilai ekonomi, tetapi bagaimana aktivitas ekonomi tersebut mampu menjaga laut sebagai sumber kehidupan untuk generasi yang akan datang,” tegasnya.

Perspektif tersebut menjadi semakin relevan ketika hubungan ekonomi Bali dan Timor-Leste mulai diarahkan tidak hanya pada perdagangan dan pariwisata, tetapi juga pada konektivitas dan kerja sama maritim.

Dari Forum Bisnis ke Proyek Nyata

Febri mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah forum bisnis bukan semata jumlah pejabat, pengusaha atau delegasi yang hadir.

Yang jauh lebih penting adalah apakah pertemuan tersebut mampu melahirkan gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi investasi, kemitraan dan proyek konkret.

AGSI, kata dia, terbuka untuk membangun komunikasi dengan pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas serta pemangku kepentingan lainnya.

“Kami percaya keberhasilan forum ini nantinya bukan hanya ditentukan oleh siapa yang hadir, tetapi juga oleh seberapa jauh forum tersebut mampu mempertemukan gagasan dan membangun peluang kerja sama yang dapat ditindaklanjuti.”

Dengan demikian, Bali–Timor-Leste Business Forum memiliki ruang untuk membahas lebih jauh potensi maritime connectivity, pengembangan industri kapal, jasa kemaritiman, teknologi hijau serta peningkatan kapasitas SDM.

Teknologi Kapal Jadi Kartu Strategis

Tidak berhenti pada gagasan, Febri juga membawa perspektif teknologi dari industri yang selama ini digelutinya.

Selain sebagai Sekjen AGSI, Febri Hantari, S.H. juga berperan sebagai legal consultant pada PT Dirman Fiberglass dan PT Galangan Perkasa Pratama.

Menurutnya, pengembangan industri galangan membutuhkan keberanian untuk bergerak dari teknologi konvensional menuju teknologi material yang lebih efisien.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah kombinasi Fiberglass Composite dan Carbon Fiber Inject System.

Teknologi tersebut diklaim memberikan sejumlah keunggulan dibandingkan metode hand lay-up maupun penggunaan material kayu dan baja tradisional.

Pertama, dari sisi bobot. Teknologi tersebut berpotensi menghasilkan kapal dengan bobot lebih ringan hingga sekitar 30–40 persen, sehingga deadweight dapat ditekan dan draft kapal menjadi lebih rendah.

Kedua, efisiensi operasional. Bobot kapal yang lebih ringan berpotensi menurunkan hambatan kapal terhadap air sehingga konsumsi bahan bakar dapat ditekan. Berdasarkan perhitungan yang disampaikan, efisiensi BBM diperkirakan dapat mencapai 20–30 persen, atau memberikan peluang peningkatan kecepatan jelajah dengan daya mesin yang sama.

Ketiga, aspek kekuatan struktur.

Sistem injeksi resin memungkinkan pengaturan rasio serat dan resin yang lebih optimal sekaligus mengurangi risiko air voids. Sementara penggunaan karbon fiber dapat meningkatkan kekakuan struktur pada bagian-bagian kritis seperti keel, hull bottom dan stringer.

Keempat, ketahanan terhadap lingkungan laut.

Material komposit memiliki keunggulan karena tidak mengalami korosi seperti material logam. Selain itu, material tersebut juga memiliki ketahanan terhadap serangan biota laut maupun persoalan yang lazim terjadi pada konstruksi kayu.

Konsekuensinya, biaya pemeliharaan dan docking berpotensi ditekan.

Bali Jangan Hanya Jadi Pasar, Harus Jadi Basis Industri

Di titik inilah isu galangan kapal menjadi menarik secara ekonomi.

Jika Bali hanya menjadi pasar bagi kapal, teknologi, komponen dan jasa kemaritiman dari luar daerah, maka sebagian besar nilai tambah ekonomi akan keluar dari Bali.

Sebaliknya, apabila Bali mampu membangun ekosistem industri maritim—mulai dari desain, pembangunan kapal, perawatan, komponen, SDM, teknologi hingga jasa pendukung—maka nilai ekonominya dapat berputar lebih besar di dalam negeri.

Febri melihat peluang tersebut sebagai bagian dari masa depan Bali.

“Kami membayangkan Bali ke depan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai salah satu ruang tumbuhnya ekosistem industri maritim yang modern, berdaya saing dan tetap menjaga alam Bali.”

Dari Bali untuk Ketahanan Maritim Indonesia

Gagasan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar bisnis.

Industri galangan yang kuat berarti Indonesia memiliki kapasitas yang lebih baik untuk membangun, merawat dan mengembangkan armada nasional.

Di tengah posisi Indonesia sebagai negara kepulauan, kemampuan industri maritim dalam negeri menjadi bagian penting dari konektivitas antarpulau, logistik, ekonomi pesisir sekaligus ketahanan maritim.

Karena itu, agenda Bali–Timor-Leste Business Forum dapat menjadi momentum untuk menguji satu pertanyaan besar:

Apakah Bali akan terus dikenal hanya sebagai destinasi wisata dunia, atau mulai mengambil posisi sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi maritim kawasan?

AGSI menyatakan siap membawa perspektif industri kemaritiman ke ruang dialog tersebut.

Harapannya, forum tidak berhenti pada seremoni dan pertukaran kartu nama, tetapi menghasilkan peta jalan kerja sama, investasi, transfer teknologi, penguatan SDM dan proyek maritim yang benar-benar dapat dieksekusi.

Sebab pada akhirnya, laut bukan hanya batas geografis.

Laut adalah ruang ekonomi. Galangan adalah infrastrukturnya. Teknologi adalah pengungkitnya. Dan kerja sama Bali–Timor-Leste dapat menjadi salah satu pintu masuknya.*netti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memuat konten...